Rabu, 23 Oktober 2019

kecintaan masyarakat desa Sade dan desa Sesele terhadap naskah-naskah atau benda-benda kuno yang ada di desa mereka.

Assalamualaikum wr. wb.

Perkenalkan saya taufiq walharits, saya lahir 06-09-1998, alamat lengkap saya; dusun gubuk raden, desa kebon ayu kec. Gerung Kab. Lombok Barat NTB.

Disini saya akan menceritakan pengalaman saya terkait ketertarikan saya terhadap naskah-naskah kuno dan sejarah-sejarah yang ada di daerah saya (Lombok). Di lombok sendiri terkenal dengan banyaknya sejarah baik sejarah pulaunya maupun masing-masing desa yang ada di pulau lombok itu sendiri. Saya sangat tertarik mencari naskah-naskah tersebut dikarenakan saya penasaran tentang kapan islam masuk di pulau Lombok. Namun dalam tulisan ini saya tidak membahas tentang itu. Karna sesuai judul ada dua tempat yang saya kunjungi dalam pencarian naskah ini. Saya ceritakan satu per satu.


Pada tanggal 20 oktober 2019, hari minggu pagi saya dan teman-teman yang kebetulan mempunyai tujuan yang sama (mencari naskah-naskah kuno) pergi ke dese Sade yang kebetulan salah satu teman saya memiliki sahabat yang berasal dari dese Sade, temannya itu bernama Tina. Kami sangat berharap dapat bertemu dan melihat langsung naskah atau benda-benda pusaka yang ada di desa Sade tersebut. Di tengah perjalanan ada teman kami yang menelpon bahwa mereka ingin ikut dengan kami ke dese sade, kami perbolehkan namun waktu kami agak terkuras karena menunggu mereka meskipun kita menunggu di depan dese sade. 15 menitan teman yang kita tunggupun akhirnya datang. Si tina langsung mengarahkan kami untuk bertemu seseorang yang bisa kami wawancarai terkait dengan naskah-naskah yang kami cari. Hingga kita diperkenalkan dengan salah satu masyarakat asli dese Sade yang bernama pak hariadia, pak hariadi ini adalah lulusan bahasa daerah di Muhammadiyah Mataram. Berhubung beliau tahu maksud dan tujuan kami menemuinya, beliau memberi tahu kami bahwa seseorang yang ingin kami temui (pemegang naskah-naskah kuno) sedang ada acara dan tidak bisa kita temui pada saat itu. Tetapi pak hariadi bersedia menggantikan seseorang yang kami cari tersebut, namun pak hariadi pula tidak bisa langsung kami wawancarai karena pada saat kami datang, masyarakat desa sade sedang membangun satu rumah adat dan pak hariadi harus membantu warga yang lain. Kami memanfaatkan waktu untuk menunggu pak hariadi dengan melihat dan mengeilingi dese sade yang sangat indah dan banyaknya hasil kerajinan tangan warga sana dan pastinya menarik perhatian kami  Sekitar 30 menit lamanya kami menunggu dan akhirnya saya dan temen-temen bisa mewawancarai beliau.


Karena bapak yang memegang naskah sedang ada acara, pak hariadi mengajak kami untuk melakukan wawancara di depan Alfamart, dan di sana kita membicarakan tentang naskah-naskah tersebut. Beliau mengatakan bahwa naskah-naskah kuno yang ada di sana berupa lelontaran, dalam tulisan bahasa kawi dan arab melayu. Beliau memberi tahu mamfaatnya lelontaran tersebut bagi masyarakat di sana, seperti dalam berprilaku, adat istiadat, membuat rumah, membuat tenun baik nilai tauhid semua tercantum dalam lelontaran tersebut. Salah satunya kegiatan adat yang bernama "ngayu-ngayu", kegiatan yang bertujuan untuk seseorang yang memiliki angan dan diyakini masyarakat sana sebagai pembalas kebaikan yang beri tuhan terhadap mereka, baik dalam rangka ngurisang, selametan dan sebagainya. Sebab itu warga desa sade sangat mencintai dan menjaga kelestarian naskah-naskah yang mereka punya.
Naskah tersebut dipegang sesuai dengan keturunan, dia akan tetap berada di satu keluarga, satu tempat karena yang dapat tugas itu harus dari keturunan yang sebelumnya. Banyak orang yang bisa mempelajari atau membaca lelontaran tersebut, namun hanya penjaganyalah yang paling paham seluruh makna dan isi dari lelontaran tersebut. Di saat kami meminta untuk melihat lelontaran itu, pak hariadi mengatakan bahwa lelontaran itu tidak sembarangan dibuka ataupun diperlihatkan, baik untuk kepentingan penelitian ataupun yang lainya, lelontaran itu hanya akan keluar jikalau ada acara adat yang ada di desa sade tersebut. Untuk menambah wawasan kami, pak hariadi menceritakan bahwa ada namanya kain umba' yang dimiliki tidak semua orang, dan tidak dijual berapapun harganya. Dikarenakan ada kegunaan di masa depan pemiliknya yang hal itu sebelumnya sudah ada di jelaskan dalam lelontaran yang mereka punya.

Kami sedikit kecewa karena tidak dapat melihat langsung naskah tersebut, walau begitu kami meminta pak hariadi untuk menunjukkan kami rumah atau tempat tinggal penjaga lelontaran tersebut. Lihat foto dibawah ini.

Terlihat dari foto di atas, rumah yang sangat sederhana dan semakin membuat saya penasadan dengan apa yang ada di dalamnya. Dan rasanya saya akan kembali dan mencari tahu tentang rumah ini lagi. 

Perjalanan kami tidak sampai di sini, kami melanjutkan mencari naskah kuno di dese sesele, yang katanya ada namanya amaq raisah, salah satu teman kami yang membaca artikel bahwa amaq raisah ini suka memperlihatkan naskah kuno yang beliau punya kepada orang-orang yang menanyakannya.

Pada tanggal 22 oktober 2019, tepatnya hari rabu pagi, saya dan teman-teman ingin menjumpai amaq raisah. Berhubung kami tidak mengetahui alamat lengkap beliau, maka kami mencari tahu itu dengan cara pergi ke kanto desa sesele. Sesampainya di kantor desa kami disambut baik oleh pak lutfi (pekerja kantor desa), kepada beliau kami menanyakan tentang identitas amaq raisah, namum beliau tidak tahu, kami melanjutkan dengan rinci tujuan kami mencari amaq raisah ini untuk melihat naskah-naskah kuno, lalu pak lutfi memberi tahu bahwa ada penggiat naskah di desa sesele yaitu pak ijtihad, pak ijtihad ini alumni UIN mataram yang katanya banyak menyimpan naskah. Di kantor desa juga kami di berikan copy'an hasil lelontaran yang sudah disalin ke huruf latin yang awalnya bahasa kawi, lalu disalin ke bahasa arab melayu hingga yang kami lihat pada waktu itu sudah berbentuk huruf latin. Dikarenakan yang aslinya sudah hilang tidak tahu kemana. Kami cukupkan wawancara kami dengan pak lutfi dan kami lanjutkan mencati pak ijtihad. Kebetulan tadi kami dikasih nomer pak ijtihad lalu kami mencoba menghubungi beliau. Beliau mengatakan bahwa naskah-naskah yang beliau tahu itu tidak ada yang asli, alias sudah disalin, sehingga kami tidak melanjutkan mewawancarai beliau, namun kepada beliau kami bertanya lagi tentang amaq raisah, beliau menjawab tidak ada namanya amaq raisah melainkan amaq nurisah. Kami semakin bingung dan mencari lagi yang namanya amaq nurisah. Setelah seringkali bertanya kepada warga, ternyata amaq nurisah itu adalah nama gang. Kami sampai disana hampir putus asa, tidak tahu lagi mau kemana. Sampai salah satu teman kami mengajak kami ke pasar Seni dese selese.

Di pasar seni kami bertemu dengan penjaga toko kerajinan tangan yang ada disana. Kami bercerita panjang kepada beliau bahwa ada sesuatu yang ingin kami cari. Hingga akhirnya, beliau ingat bahwa ada yang memegang sejarah lahirnya dese sesele dan membawa benda-benda pusaka atau lelontaran yang kami cari tersebut. Bapak penjaga toko tadi memberi tahu kami bahwa yang memegang itu namamya pak hairul.

Setelah itu bapak penjaga toko tadi mengantar kita ke rumah keluarga pak hairul yang ada di sesele. Sesampainya kami di sana. Kami bertemu dengan keluarga pak hairul, mereka mengatakan bahwa pak hairul tidak tinggal di sesele lagi, melainkan beliau sudah pindah ke puncang bersama istri dan anaknya. Kamipun sedikit kesal karna capek mencari, tapi kami tetap memutuskan untuk mencari dan menemukan naskah yang ada di dese sesele tersebut. Keluara pak hairul tadi memberi kami nomor pak hairul untuk kami hubungi setelah sampai ke puncang agar kami bisa bertemu beliau. 

Kami kewalahan mencari dikarenakan pak hairul sulit untuk dihubungi hingga kami memutuskan untuk istirahat makan sejenak. Sekitar pukul 11 sembari kami menghabiskan makanan, kami mencoba menelfon beliau lagi dan beruntung sekali pak hairul mengangkat dan memberi tahu kami lokasi rumahnya. 


Hingga sampailah kita di rumah pak hairul. Kami disambut oleh istri beliau dan kami mewawancarai beliau serta istrinya di berugak samping rumahnya. Untuk mempersingkat tulisan ini langsung saya akan tulis isi pembicaraan kami. Pak hairul bercerita bahwa naskah-naskah kuno dan benda-benda pusaka tersebut sedang dipinjam oleh twan guru besar pondok pesantren di kapek. Sampai sekarang belum dikembalikan, karenakan juga pak hairul yang tidak terlalu mengerti dan kadang kewalahan dalam menjaga benda-benda tersebut. Hal itu terjadi karena almarhum ayahanda pak hairul meninggal saat pak hairul masih kecil dan belum sempat belajar banyak tentang naskah-naskah itu. Dikarenakan juga warga sesele yang semakin lama semakin menolak atau menghilangkan adat budaya mereka sehingga naskah-naskah itu juga ikut terlupakan.  Setelah lama berbicara, ternyata sang istripun keturunan dari orang-orang yang memegang naskah juga mamun beliau dari rembige yang katanya keturunan sang istru itu berasal dari raden semirang. Beliau menyuruh kami pergi rembige dan bertemu dengan dua tokoh besar di sana ada yang bernama lalu mahdan dan H. Lalu bahraen. Dipastikan kita akan bertemu dan melihat langsung naskah-naskah kuno yang mereka lestarikan disana.

Saya akhiri artikel ini, dan pastinya saya akan melanjutkan pencarian saya terhadap naskah-naskah kuno yang ada di pulau lombok dan akan saya tulis lagi di artikel selanjutnya.

Terimakasih

Melihat masa depan dari naskah kuno SASAK lewat tradisi NYEPUT

Assalamualaikum wr.wb Semoga kita tetap dalam keadaan sehat teman-teman, di artikel ini saya akan bercerita tentang pengalaman saya dalam ha...